Fragmen tak bernama

thumbnail

seperti semula, kaunyanyikan lagu purba
menyatu dalam tarian pohon-pohon akasia
ketika adam meninggalkan tanah asalnya
mencari hawa di belantara luka
dalam kicau burung dan risik serangga
angin bersetubuh dengan musimnya

tiap senja tiba daun pun rontok
mawar mekar merah senyumnya
ketika layu kau tak menjamahnya
kaubiarkan burung meninggalkan kicaunya
kaubiarkan kupu meninggalkan kepompongnya

semesta berproses dalam genggaman kodrat
kehidupan kauciptakan lantas kauremas
pelan-pelan, mengucur darah kefanaan

1980

Hujan

thumbnail

Hujan mengubah jalanan musim kemarau semacam cermin
yang mengganti namaku jadi Biru.

kita adalah sepasang roh yang dikutuk gentayangan
selamanya. Dan hari ini, di tikungan itu, kita kembali
bertabrakan. Tak ada guruh, juga petir. Kita cuma saling
bercakap dengan datar. Dan menatap. Aku menawarkan
payung. Kamu mengangguk. Lalu kita pulang bersama
dengan teduh.

Jalan-jalan sempit. Tangga yang sambung-menyambung,
Dinding-dinding yang saling berdesak (tapi telah kebal
Pada klaustrofobia). Polisi yang basah kuyup. Kucing hitam
Yang menggigil di atas tembok. Pintu-pintu yang terkunci.
Apartemen-apartemen kosong. Jendela yang tak
memantulkan apa-apa selain gelap…

Tak ada yang lebih jauh dari bentang di balik tirai hujan di
tepi payung.

Ketika hujan berhenti, matahari telah pergi. Langit pekat, dan
kita tahu, tak akan ada pelangi.
Kata satu suara dari film lama:
Cinta adalah tentang waktu. Tak baik bertemu orang yang
tepat terlalu cepat atau terlambat.

Tapi hujan telah mengubah wajahmu semacam cermin yang
mengganti namaku jadi Biru.

Sedihku, Pegang Satu: Aku Mencintaimu

thumbnail

Sedihku
tidurlah tenang lupakan perih di hati
pikiran benang benang kusut
menjungkalkan langkah kaki
pegang satu: aku mencintaimu

Sedihku
jemari lembutmu mulailah menisik
rajutan bintang, anyaman rembulan
taman sari warna warni
ikan ikan berlari di dinding

bila lelah matamu,
tidurlah tenang lupakan perih di hati

Sedihku
hati gelombang ombak dimusim hujan
gemuruh ditepak guntur
menjerit lara dari kerak kerak bernanah
dalam angan melayang pernah mencium keningmu
meminta maaf buat kerinduan

Sedihku
jantung pisau diasah yang berayun
penuh derap menebas
aku kau jatuh ke tanah
pecahan pecahan kecewa tak satu serpih pun
menggugah senyum
aku kau menutup hati
memilih menjadi pecundang
pemeran kisah dalam panggung sunyi.

Retak di Dunia, Gugur di Kaca: "Kita"

thumbnail

Bagaimana dengan kecupan malammu: apakah masih terlampau dingin?

Jejakmu masih bisu saat kusapa dengan rindu
lalu, aku merangkumnya menjadi satu
ke dalam sebuah Sabtu
bersama nyeri dan hasrat yang enggan meragu
kelelahan adalah masa lalu
saat kamu tertidur di pelukanku
pada detak jam yang melupa waktu
satu per satu kenangan runtuh di tubuhku.

Bagaimana pelukan pagimu: apakah masih terasa sejuk?

Melipat mimpi, menafkahi sepi
Kamu (dan aku) menyesatkan diri dalam pergi.

Bagaimana senyuman senjamu: apakah masih terlihat melodius?

Bertemu retak dunia, gugur di kaca.

: “Kita”.

R A S A

thumbnail

Aku pernah mengayuh sepeda sejarak lelah pantang menyerah, lalu berhujan-ria basah sebadan.
Genangan demi genangan pun terkoyak-ruah oleh ban berputaran
Berpeluh-peluh keringat menyatu basah dengan hujan.
Namun tetap tidak se-ber-arti yang aku kira.
Yang diharap pergi.
Yang dinanti, pulang kembali.
Dan aku,
Menjadi api yang membakar hati,
Namun diam meski mendidih.

Aku pernah mengayuh sepeda sejarak lelah pantang menyerah, lalu berhujan-ria basah sebadan.
Sesengguk nafas lesu menderu buru-buru.
Kota hujan yang selalu mendung dengan rindu.
Aku sampai ditujuan.
Engkau angkuh mendiamkan,
Kita berhadapan,
Tapi kau menolak bertatapan.

Perindu diam,
Mendayuh kesal mengendap datang.
Perindu bicara,
Dan ter-abaikan bak kucing meminta makan.

Perindu pulang,
Hujan masih tetap sama.
Jalanan tergenang, ia pun tetap basah.
Dan rasa belum ber- ubah.

Pantang menyerah hampir selaras kebodohan.
Ketulusan,..
Selaras bermain perasaan.





-- a d r i l u b i s

Doa Bayang-Bayang

thumbnail

jadikan bayangku pada tembok
persis lekuk tubuhku
agar aku mudah mengukurnya
lukiskan wajahku pada cermin
persis wajahku
agar aku mudah mengenalnya
lahirkan hatiku lewat mata dan mulut
persis hatiku
agar aku mudah menggenggamnya

Tuhan, kenapa selalu kauciptakan misteri
di dalam lautan kehidupan ini
bahkan di dalam lautan sempitku
gelombang jiwaku sulit kumengerti

Tuhan, beri aku kekuatan
membongkar misteri itu
sampai tak lagi bertanya-tanya
dan meraba-raba
pada dinding-dinding tanpa pintu.

Kotak Merah

thumbnail


Kita,.
Satu kata yang menjadi tanda tanya apakah dia telah kembali, atau hanya seperti perasaan senang namun tak jelas senang karena apa.
Dia,.
kenapa kamu diam setiap aku mengucapkan kata manis yang selanjutnya dibalas ketus, apa salahku? begitu jahat kah diriku sekarang. Hingga kata maaf dari mulut ku saja kau tidak begitu percaya.
Sayang, jujur aku tak mengerti ada apa dengan kamu yang sekarang...