R A S A
RE
5:34 AM
Aku pernah mengayuh sepeda sejarak lelah pantang menyerah, lalu berhujan-ria basah sebadan.
Genangan demi genangan pun terkoyak-ruah oleh ban berputaran
Berpeluh-peluh keringat menyatu basah dengan hujan.
Namun tetap tidak se-ber-arti yang aku kira.
Yang diharap pergi.
Yang dinanti, pulang kembali.
Dan aku,
Menjadi api yang membakar hati,
Namun diam meski mendidih.
Aku pernah mengayuh sepeda sejarak lelah pantang menyerah, lalu berhujan-ria basah sebadan.
Sesengguk nafas lesu menderu buru-buru.
Kota hujan yang selalu mendung dengan rindu.
Aku sampai ditujuan.
Engkau angkuh mendiamkan,
Kita berhadapan,
Tapi kau menolak bertatapan.
Perindu diam,
Mendayuh kesal mengendap datang.
Perindu bicara,
Dan ter-abaikan bak kucing meminta makan.
Perindu pulang,
Hujan masih tetap sama.
Jalanan tergenang, ia pun tetap basah.
Dan rasa belum ber- ubah.
Pantang menyerah hampir selaras kebodohan.
Ketulusan,..
Selaras bermain perasaan.
-- a d r i l u b i s
Thanks for reading
R A S A
Labels: #malamsuram , Artikel Copas , puisi
« Previous
« Prev Post
« Prev Post
Next »
Next Post »
Next Post »

0 comments :
Post a Comment