Elegi Patah Hati


Mengenang kesunyian diantara secangkir kopi hitam dan ditemani pulpen yang siap menulis sebaris kalimat...

"Ada sebuah kata untuk-mu sebelum kau pergi"

Seandainya ‘ikhlas’ semudah menuliskannya, beri aku alat tulis dan akan kugoreskan tintanya di atas permukaan ke sedihan ini.

Cara bagaimana melihat patah hati diawali dari dia menyita kewarasan, dan bagaimana cara patah hati menghabisi cara untuk hidup, dan bagaimana patah hati bisa membuat nyaman orang yang amat terlalu cinta walau sudah mencicipi patah hati.

Meski selalu ada kemungkinan, cara untuk pergi dan terjatuh pada setiap pelukan yang sama hingga lupa bagaimana cara tersenyum. Perasaan takut masih mengidap di pikiran ini dan hanya berbalas tatapan mata yang hanya sepersekian detik.

Patah hati...

Seperti mengayuh sampan kecil di danau yang sepi dimana setiap kali dayuhnya yang jatuh memercik air adalah detak detak jantungku yang belum siap ditinggalkan oleh mu karena waktu, sejak dirimu berucap bahwa kau akan pergi dan meninggalkan jejak lembut juga serpihan kenangan, lalu mengendap di dasar hati, mencoba untuk ikhlas tetapi ada perasaan yang begitu aneh mungkin karena sudah terlalu sering aku mengucap sayang kepada mu.

"Terima kasih kamu yang berhasil membuatku jatuh cinta, meski pada akhirnya ternyata memiliki bukan menjadi hasil dari akhir kita berdua. Dan kuharap bukan itu jawabannya."
Thanks for reading Elegi Patah Hati

« Previous
« Prev Post

0 comments :

Post a Comment