Aku Kalah




Apakah orang yang mempermalukanmu dengan begitu baik harus diam-diam menjahatiku? Kudengar dia orang yang baik, namun diam-diam mengungkapkan perasaan kepada kekasihku walau sudah usai dan itu kau. Aku kalah sesat setelah aku berkedip, kau lenyap. Setengah untuk orang yang begitu baik, mungkin setengah lagi menyimpan kemunafikan.

Aku tidak menyalahkanmu. Dahulu kulihat kalian berdua bahagia. Hanya dulu, saat aku melihat dengan sepasang bola mata tanpa perasa. Sekarang aku kagok oleh karena begitu banyak ketakutan di dalamnya. Aku ingin menggenggam tangannya, namun aku khawatir kau tersinggung.

Apakah ini pertanda untukku meniti hidup yang baru untuk seseorang yang baru? Aku tidak yakin, sebab sampai dihari ini, rindu selalu lebih kuat dari kekecewaan. Aku tidak mau memilih pengganti dengan hati yang memberi rasa kasihan. Hati yang menjerit tidak harus selalu menyerukan kesepian.

Biarkanlah aku, tidak memiliki yang tidak aku cintai. Ini lebih baik dari asal-asalan.

Jadi dengarkanlah sayang, jangan karena kau cinta aku begitu besar, cintaku jadi tidak berarti apa-apa. Aku tau kau mencintaiku, namun cintakah yang kau inginkan? Jika kau bilang kau lebih mencintaiku, lalu untuk diakah sisanya? Kalau iya, mungkin hatimu dipertanyakan. Jadi sekarang bayangkan, jika hati kekasihmu dicuri, akankah hatinya akan kembali dengan utuh? karena siapakah aku yang menjawab tanya sendiri, dan karena apa aku harus bisa diam untuk hal ini?

Mungkin ini pelajaran bahwa ternyata ada juga cinta yang jahat, cinta yang mencari celah untuk dapat memisahkan dua hati yang menyatu. Aku dan kamu yang dulu pernah diam tak bersapa tapi kini menjadi kita. Baiklah biarkan bumi berputar, waktu berjalan dan aku terpaku akan bayanganku sendiri.

Yang baik selalu menang, yang terbaik hanya dikenang. Aku kalah.
« Previous
« Prev Post

0 comments :

Post a Comment