Jangan Pergi, Dear




Aku seperti terdampar di dalam kotak kado yang masih terbungkus rapih. Dimana sebuah bentuk ruang menyerupai kelas untuk belajar, ya sesuatu yang secara lisan dijabarkan oleh sang guru, persis sewujud guru yang lengkap atributnya. Mata pelajarannya bukan rumitnya soal matematika, rumus fisika apalagi hasil gabungan zat kimia. Pelajaran ini tentang batin. Tujuh puluh persen logika dan tiga puluh persen hati. Mungkin saja (setidaknya hanya aku) yang selama ini kuyakini sebagai seorang laki-laki pengecut. Sang guru merepresentasikan interpretasi kejadian demi kejadian tentang aku dan kamu. Membahas makna di balik pertemuan-pertengkaran kita, kemungkinan-ketidakmungkinan, seberapa besar peran semesta dan yang paling penting, kamu. Kamulah pertanyaan terbesarku.

Inilah aku, dengan segala yang mungkin tidak pernah kamu ekspektasikan akan sebuah rasa penasaran. Inilah aku dengan segala yang mungkin tidak semesta duga sejumput daya demi menuntut sebuah pemahaman. Inilah aku dengan segala yang mungkin telah diskenariokan Tuhan untuk mendeskripsikan betapa kompleksnya struktur sintaksis antara pikiran dan hati manusia dalam mencari sebuah pemahaman.

Aku dituntut untuk tersesat dalam pikiranku sendiri demi menguaknya meski kudapati diriku muak dengan alasan-alasan tidak masuk akal (kenapa harus pergi). Aku ingin tahu. Aku ingin mengerti. Aku ingin benar-benar paham apa yang kamu inginkan dari ku tapi tidak untuk pergi, dan untuk apa konsep pertemuan dan perpisahan. Sebab yang pasti dalam takdir adalah mati. Sedangkan kisah dan kasih kita ialah nasib. Sungguh, aku butuh jawaban terhadap pertanyaan yang belum kumengerti, setidaknya dapat mengakhiri rasa sakit menjalani hari tanpa tau apa kamu sudah melupakan itu dan mencoba buka hal yang baru, tetapi ini tidak sama sekali. Mungkin inilah peran misteri di genggaman rahasia. Mungkin itu alasan mengapa penyesalan selalu ada di akhir.

Kalau saja hidup ini ada yang merancang buku manual, tentu saja itu akan mempermudahkan kita sebagai manusia normal. akan ku hindari apa yang semestinya kamu tidak suka, dan sebaliknya. Tapi untuk saat ini, aku ingin membaca bagian hati dan serba-serbinya sambil berbicara "jangan pergi".
Thanks for reading Jangan Pergi, Dear

« Previous
« Prev Post

0 comments :

Post a Comment