Home » , » Replika Kenangan

Replika Kenangan

Memendam perasaan itu serba salah dan capek, kayak lagunya Raisa, coba aja nyanyiinnya sambil main futsal. Di satu sisi dinilai egois karena hanya menikmati perasaan cinta itu sendiri, namun di sisi lain jika diungkapkan takut nantinya menghancurkan keadaan, menghancurkan apa yang udah tertata dengan baik.

Kalimat terakhir ini yang mungkin gue rasa pas untuk hari ini dan beberapa hari kedepan, kenapa begitu?

Awalnya engga ada maksud buat deketin atau ngarep dapet, tapi kenapa seiringnya nada terbentuk dan ya candaan yang menjerumus ke perasaan itu berubah.

Awalnya muncul rasa Suka, ya ini udah lama banget gue pendem cuman gue terelalu dalam mendemnya, jadi baru keluar sekarang.

Munculnya rasa Cemburu, ya gak tau ini bisa keluar begitu aja, mungkin karena terbawa suasana jadi terlalu berharap dan ya harapan itu engga pasti dan jatuhnya ke orang lain.

Datangnya rasa Takut, ini yang sekarang gue rasakan, engga tau kenapa fatal banget ketika nanyain satu hal yang menjerumus ke pergian/perpisahan walau hitungannya sementara.

Dan ini perasaan aneh dan baru gue rasain. Tidak di anggap, mungkin kalau dia yang membaca ini pasti berfikir "sejahat apa sih gue" ya gue akan jawab. lu engga jahat cuman perasaan berlebihan dan waktu yang merubah ini semua menjadi jahat.

Gue punya pemikiran kalau Dia belum bisa Move On...
Mungkin dia punya kenangan terlalu manis yang engga bisa dilupakan dan diucapkan disini, karena gue engga tau kenangan apa itu, tapi alasan yang masuk akal adalah karena kenangan itu engga akan pernah bisa terulang lagi. Sekali pun kenangan itu dicoba untuk terulang lagi dengan waktu, tempat, orang, dan kondisi yang sama, semua itu hanya replika. Semua itu hanya rekayasa yang dibuat seolah sempurna.

Semua itu replika, jadi kalau dia berfikir gue jahat, ya gue jahat :)

Karena kalau gue baik bahkan terlalu baik itu gue munafik, menyipan perasaan aneh tapi masih tetap tersenyum, gue lebih milih jadi pecundang sekalipun dari pada terus diam menjadi replika kenangan orang lain.

Menganggap ini semua sia-sia adalah cara untuk mewakili perasaan takut menjadi replika jadi ada sebuah quote yang berbunyi...

"Tak ada yang lebih tulus dari seseorang yang sudah tau sejak awal akan disia-siakan, tapi tetap tak berhenti menjaga perasaannya"

Dan dari quote di atas, gue bisa paham dengan sedikit kasar bahwa tulus dan tolol itu sebenarnya beda tipis. :)
Thanks for reading Replika Kenangan

« Previous
« Prev Post

0 comments :

Post a Comment